Ilustrasi suporter sepak bola (Ist)
Ilustrasi suporter sepak bola (Ist)

MALANGTIMES - Dunia sepak bola Indonesia kembali ramai diperbincangkan di media sosial (medsos). Sayangnya, kembali bukan hal positif yang ramai di lini masa saat ini. Tapi, protes keras warganet atas penangkapan suporter Putra Sleman Sembada (PSS) oleh kepolisian.

Bukan karena ulahnya di stadion, kedua suporter bernama Yudhi Saputra (17) seorang pelajar yang telah ditangkap dan dikenakan pasal 310 KUHP atau pasal pencemaran nama baik. Serta Randy yang jadi Daftar Pencarian Orang (DPO) sampai Selasa (19/11/2019) malam, kemarin. Tapi hanya gegara memasang poster berisi kritikan untuk komisaris sekaligus mantan CEO PT PSS, Soekeno. 

Dimana, poster itu ditempelkan di toilet salah satu mal di Yogyakarta yang dimiliki oleh Soekeno. 

Sontak saja penangkapan Yudhi itu menuai kritik dan perlawanan tajam dari warganet. Tagar #BebaskanYudhiAtauBoikot merangkak terus dan jadi trending topik Indonesia di Twitter, dengan percakapan mencapai 29,3 ribu warganet sampai kemarin malam.

Akun Arema Indonesia @AremaMalangID pun bersikap atas peristiwa itu. "Kami mungkin tidak kenal. Kami bahkan berbeda. Tapi, apa yg dia rasakan bisa saja kami rasakan. Pasal2 karet yg "membunuh" manusia manusia bebas. #BebaskanYudhiAtauBoikot," tulisnya mendukung Yudhi.

Pemilik pengikut 46,8 ribu yang konsen di dunia sepakbola @indosupporter pun menyatakan sikap yang sama. "Beli tiket, penuhi stadion, beri merchandise original, awayday, mendukung saat terpuruk. Tapi ketika mengkritik, dibungkam. LAWAN! #BebaskanYudhiAtauBoikot," cuitnya.

Akun Jakmania U-40 @GKwarrior_17 juga menyuarakan hal yang sama. "Jika benar teman² di Sleman berhasil di kriminalisasi maka hal tersebut bisa saja di contoh oleh manajemen seluruh klub Indonesia, bebaskan kawan kami! #BebaskanYudhiAtauBoikot," ujarnya.

Sikap terhadap manajemen PSS Sleman pun telah dipilih oleh ribuan warganet di lini masa. Yakni, bebaskan Yudhi atau boikot setiap laga PSS.

"Yudhi akan menghadapi UAS kelas  3 SMK & Randy tulang punggung keluarga, tapi keduanya dikriminalisasi hanya karena menempel poster kritik terhadap sang penguasa, Bertahun tak pernah absen laga home tapi saya pribadi memilih Boikot laga PSS demi mereka," ucap @tom_sidq yang senada dengan warganet lainnya.

Ramainya tagar tersebut, membuat Soekeno pun memberikan klarifikasinya. Dikutip oleh harianjogja.com, dirinya menyatakan ketidaktahuannya ada suporter yang ditangkap kepolisian karena melakukan kritik pada dirinya.

"Mungkin anak-anak itu pasang poser di mall. Itu kan gak boleh. Mungkin sekuriti terganggu atau bagaimana. Kalau saya sudah biasa dikritik, mas. Jika sampai ditahan mungkin ada salahnya. Mungkin kenanya merusak fasilitas," ucap Soekeno.

Pernyataan itu pun bersambut dengan balasan dari warganet lainnya. @Ariya_Shinichi mencuitkan, "Sekali lagi saya luruskan, teman kami tdk ada yg merusak fasilitas mall. Murni nempelin poster protes ke menagemen." 

Selain melakukan protes keras dan kembali menggaungnya kata sakral perlawanan dari penyair Wiji Thukul "Lawan" di puluhan ribu cuitan. Akun @Nobita82813743 juga mention akun Twitter Bupati Sleman. "Bapak bupati sleman @SriPurnomoSP pripun niki cuma gara gara mengkritik supaya tim kebanggaan kami tidak untuk permainan sampai saudara kami di tahan?," tulisnya.

Tagar #BebaskanYudhiAtauBoikot pun ternyata mampu menyatukan berbagai akun suporter sepak bola Indonesia. Dimana menurut @Dhie_Adiii dinyatakan, "Nyatanya #BebaskanYudhiAtauBoikot lebih menyatukan suporter indonesia daripada #TimnasDay bahkan dukungan datang dari segala penjuru, bahkan dari rival musuh bebuyutan pun ikut mendukung. saatnya bergerak LAWAN !!!," cuitnya.