Mulyadi korban penipuan dan penggelapan (kaos hitam) saat menerima truk miliknya yang sempat dijadikan barang bukti oleh polisi (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)
Mulyadi korban penipuan dan penggelapan (kaos hitam) saat menerima truk miliknya yang sempat dijadikan barang bukti oleh polisi (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)

MALANGTIMES - Wajah sumringah terpancar saat Mulyadi, warga Desa Pringu, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang ini, mendapatkan kembali kendaraan miliknya yang sempat hilang setelah dibawa kabur oleh tersangka penipuan dan penggelapan, Jumat (17/1/2020).

Tersangka kasus penggelapan yang membawa kabur kendaraan korban tersebut bernama Anton warga Ketawang, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang. Pria 38 tahun tersebut, merupakan satu dari 23 tersangka yang berhasil diringkus Polres Malang dalam giat Operasi Tumpas Kejahatan Jalanan. ”Terima kasih Polres Malang, terima kasih bapak polisi truk saya akhirnya kembali,” ucap Mulyadi saat sesi serah terima barang bukti hasil kejahatan yang diterimanya usai rilis di halaman Mapolres Malang berlangsung, Jumat (17/1/2020).

Dijelaskan Kapolres Malang AKBP Yade Setiawan Ujung, beberapa barang bukti yang dikembalikan kepada pemiliknya tersebut rencananya digunakan untuk pinjam pakai. ”Ini kuncinya, silahkan digunakan untuk melanjutkan usahanya. Tapi nanti kalau diperlukan untuk penyidikan maupun persidangan tolong kami dibantu, kendaraannya hanya dihadirkan saja sebagai barang bukti,” terang Ujung.

Berdasarkan laporan kepolisian, tersangka Anton menggelapkan kendaraan truk nopol N-8842-UH milik korban pada 14 Desember 2019. Sesaat sebelum membawa kabur truk tersebut, tersangka sempat berkunjung ke rumah Mulyadi. Tujuannya adalah untuk meminjam truk sekaligus menjadi sopir pengantar barang dagangan milik korban.

”Tersangka beralasan jika truk yang hendak dipinjam digunakan untuk memuat makanan ringan ke Lamongan dan Tuban. Dia (tersangka) mendaftar sebagai sopir baru di tempat usaha milik korban,” sambung Ujung.

Berhubung korban merupakan pelaku usaha di bidang makanan ringan, Mulyadi yang saat itu butuh sopir tidak merasa curiga dan kemudian meminjami truk miliknya kepada tersangka. Mekanismenya, saat mengangkut makanan ringan milik usahanya, tersangka mengaku akan memberikan setoran senilai Rp 250 ribu per hari. Namun sebelum berangkat membawa dagangan milik korban, tersangka meminta uang Rp 1 juta untuk biaya perjalanan.

Setelah serah terima kunci dan surat kendaraan, Anton berangkat mengantarkan makanan ringan. Tidak sendirian pria 38 tahun itu didampingi dengan seorang kernet, yang memang karyawan korban. ”Sekitar 7 hari setelah kejadian tersebut, truk milik korban ternyata tidak dikembalikan. Saat dilacak melalui karyawannya (kernet) ternyata truk milik korban dibawa ke Bali,” terang Ujung.

Ketika itu, Mulyadi beranggapan jika tersangka ke Bali untuk menjualkan barang dagangan miliknya. Namun, beberapa hari kemudian, tersangka menghubungi korban dan mengaku sedang berada di Mataram dan meminta uang saku senilai Rp 2 juta. 

Permintaan itu kembali dituruti, setelah uang yang diminta ditransfer. Handphone tersangka tidak aktif saat dihubungi, bahkan kernet truk juga diturunkan di wilayah Mataram dan disuruh untuk pulang sendirian.

Puncaknya, pada hari Senin (13/1/2020) truk milik korban tak kunjung dikembalikan. Merasa telah menjadi korban penggelapan, kasus inipun dilaporkan ke pihak kepolisian. ”Sesaat setelah mendapatkan laporan, kami langsung berkoordinasi dengan Polresta Mataram. Kurang dari 1 x 24 jam tersangka AT (Anton) beserta barang bukti hasil penggelapan berhasil kami amankan,” jelas Ujung.

Perwira polisi dengan pangkat dua melati di bahu ini menambahkan, jika atas perbuatannya tersangka akhirnya dijerat dengan pasal 372 serta 378 KUHP tentang tindak pidana penipuan dan penggelapan. ”Ancamannya kurungan penjara paling lama 4 tahun,” tutup Ujung.