Pelaku pembunuhan begal ZA (tengah) saat didampingi mantan gurunya (kanan) sebelum menjalani proses persidangan (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)
Pelaku pembunuhan begal ZA (tengah) saat didampingi mantan gurunya (kanan) sebelum menjalani proses persidangan (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)

MALANGTIMES - Semenjak namanya terseret dalam kasus pembunuhan begal, pihak sekolah tempat ZA (inisial) menimba ilmu memilih untuk mengambil sikap tegas. Pelajar yang saat ini kelas XII SMA (Sekolah Menengah Atas) tersebut, dikabarkan sempat hendak dikeluarkan dari sekolahan.

Tapi, karena ada beberapa pertimbangan, remaja belasan tahun itu akhirnya bisa tetap melanjutkan pendidikannya. Namun di sekolah yang berbeda, alias mutasi atau pindah sekolah.

Hal ini disampaikan langsung oleh mantan Kepala Sekolah (Kepsek) pelaku pembunuhan begal tersebut. ”Tanggal 19 September 2019, anak (ZA) didampingi dengan bapak (tiri) dan ayah (kandung) serta keluarganya ke sini (sekolah) untuk memohon pengunduran diri (pindah sekolah),” kata SG selaku mantan Kepsek ZA.

Dari informasi yang dihimpun MalangTIMES.com, sebelum memutuskan pindah, ZA memang sempat bersekolah di salah satu SMA yang ada di Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang. Di sana, ZA menuntut ilmu sejak bangku kelas X hingga kelas XII akhir.

Hingga akhirnya, karena beragam pertimbangan termasuk pihak sekolah yang tidak berkenan instansinya tercoreng, membuat pelaku pembunuh begal tersebut akhirnya memilih untuk pindah sekolahan.

”Meskipun kasusnya ramai dan berat (kasus hukumnya), tapi saya tidak terlalu tau proses hukum seperti apa. Apakah dia (ZA) korban atau pelaku saya tidak tau, yang jelas dia (ZA) atas kemauannya secara tertulis mengajukan untuk tidak bersekolah lagi di sini (SMA di Gondanglegi),” terang SG saat ditemui MalangTIMES.com di ruangannya, Selasa (21/1/2020).

Mendapat pengajuan keluar dari sekolah itulah, lanjut SG, pihaknya akhirnya melayani proses pengajuan yang diajukan pihak keluarga ZA. ”Sebelum keluar dari sekolah, kami sempat panggil orang tuanya. Meski keluar dari sekolah, tapi masa depannya juga harus dipikirkan,” sambung SG.

Saat proses pengajuan keluar dari sekolah, SG sempat menawarkan beberapa opsi agar pendidikan ZA tetap berlanjut meski tidak sekolah lagi di SMA yang ada di Kecamatan Gondanglegi tersebut. Salah satunya adalah fasilitas pendidikan homeschooling. Namun, dari sekian opsi yang diberikan pihak sekolah, keluarga ZA mengaku keberatan, terutama di sektor pembiayaan.

”Karena mengaku kemahalan, saat itu saya tawari kalau mau dibantu pindah ke sekolah swasta. Tapi yang masih sub rayon dengan sekolah kami (SMA di Gondanglegi),” jelas SG.

Opsi itu ternyata disetujui keluarga ZA yang kemudian langsung diproses oleh pihak sekolah untuk mengurus perpindahannya. ”Hari itu juga saya langsung proses perpindahannya, di (salah satu SMA Swasta di Kecamatan Pagelaran),” ungkapnya.

Beberapa hari kemudian, ZA dikabarkan sudah diterima sebagai siswa di salah satu SMA swasta tersebut. ”Setelah kami proses perpindahan, tidak lama kemudian pas kami cek sudah jadi siswa (SMA Swasta di Kecamatan Pagelaran),” sambungnya.

Pihaknya menambahkan, sebelum pindah sekolah ZA sering izin untuk menjalani proses penyidikan dan menjadi tahanan kota. Maklum saja, meski tidak ditahan ZA sempat diwajibkan lapor ke Polres Malang terkait statusnya yang menjadi tersangka kasus pembunuhan begal. ”Dulu sering izin karena diminta absen ke Polres Malang, karena sesuai permintaan ya saya sarankan untuk menjalaninya sepanjang dia (ZA) merasa tidak keberatan,” ujarnya.

Seperti yang sudah diberitakan, ZA diringkus polisi di rumahnya pada 10 September 2020. Remaja yang saat itu berusia 17 tahun tersebut, diamankan petugas kepolisian lantaran dianggap menjadi pelaku pembunuhan begal.

Setelah menjalani proses penyidikan dan sempat menjadi tahanan kota selama hampir 4 bulan. Kasus ZA akhirnya mulai dipersidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Kepanjen sejak 14 Januari 2020 lalu.